Ketahuilah bahwasanya tauhid memiliki keistimewaan dan keutamaan yang banyak yang menunjukkan akan kedudukannya yang tinggi. Dan di sini akan disebutkan sebagian dari keistimewaan tersebut.
- 1. Tauhid merupakan tujuan kita diciptakan dan kita diciptakan untuk merealisasikan tauhid
Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah subânahu wata’alâ:
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembahku” (Adz-Dzariat: 56)
Makna لِيَعۡبُدُونِ “agar mereka menyembahku” adalah لِيُوَحِّدُونِ “agar mereka mentauhidkanku”. Oleh karena itu, tauhid merupakan tujuan kita diciptakan dalam kehidupan ini. Allah tidak menciptakan kita sia-sia dan tidak membiarkan kita terlantar begitu saja. Akan tetapi, Allah menciptakan makhluk agar para makhluk menyembah-Nya. Allah tabâraka wata’alâ menjadikan makhluk ada agar para makhluk mentauhidkan-Nya. Dan ini sudah cukup menjadi bukti akan agung dan tingginya kedudukan tauhid.
- 2. Tauhid merupakan poros dakwah para nabi dan rasul
Dakwah setiap nabi yang Allah utus berfokus pada tauhid dan dibangun di atas tauhid. Banyak dalil yang menunjukkan akan hal ini, diantaranya adalah firman Allah subhânahu wata’alâ:
وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ
“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah dan jauhilah taghut’.” (An-Nahl: 36)
Allah juga berfirman:
وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Aku, maka sembahlah Aku.” (Al-Anbiya’: 25)
Allah juga berfirman:
وَسۡـَٔلۡ مَنۡ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رُّسُلِنَآ أَجَعَلۡنَا مِن دُونِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ءَالِهَةٗ يُعۡبَدُونَ
“Dan tanyakanlah (Muhammad) kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum engkau, ‘Apakah Kami menjadikan tuhan-tuhan selain (Allah) yang mahaPengasih untuk disembah?’” (Az-Zukhruf: 45)
Allah juga berfirman:
وَٱذۡكُرۡ أَخَا عَادٍ إِذۡ أَنذَرَ قَوۡمَهُۥ بِٱلۡأَحۡقَافِ وَقَدۡ خَلَتِ ٱلنُّذُرُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦٓ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّا ٱللَّهَ
“Dan ingatlah (Hud) saudara kaum ‘Ad, yaitu ketika dia mengingatkan kaumnya tentang bukit-bukit pasir, dan sesungguhnya telah berlalu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan setelahnya (dengan berkata), ‘Janganlah kalian menyembah selain Allah.’” (Al-Ahqaf: 21)
Dalam ayat tersebut maksud beberapa orang pemberi peringatan (ٱلنُّذُرُ) adalah para rasul. Maknanya para rasul sebelum dan setelah Nabi Hud mereka bersepakat akan tujuan yang sama, yaitu أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّا ٱللَّهَ “Janganlah kalian menyembah selain Allah.”. Maka tauhid merupakan fokus dakwah para nabi dan rasul. Oleh karena itu, kalimat pertama yang didengar oleh kaum para nabi dari nabi mereka dan hal pertama yang para nabi dakwahkan kepada kaumnya adalah ajakan kepada tauhid. Hal itu dikarenakan tauhid adalah pondasi dasar yang agama dibangun di atasnya. Permisalan agama adalah seperti pohon. Dan pohon memiliki akar dan cabang. Pohon tidak akan berdiri, kecuali dengan adanya akar. Maka agama juga tidak akan tegak, kecuali dengan adanya pondasi dasarnya, yaitu tauhid. Allah berfirman:
أَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا كَلِمَةٗ طَيِّبَةٗ كَشَجَرَةٖ طَيِّبَةٍ أَصۡلُهَا ثَابِتٞ وَفَرۡعُهَا فِي ٱلسَّمَآءِ
“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (tauhid) seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit.” (Ibrahim: 24)
Sebagaimana pohon jika dipotong akarnya akan mati, maka demikian pula agama jika tidak dibangun di atas tauhid tidak akan bermanfaat. Oleh karena itu, permisalan kedudukan tauhid terhadap agama seperti kedudukan akar terhadap pohon dan seperti kedudukan pondasi terhadap bangunan.
Diantara dalil pula yang menunjukkan bahwa tauhid merupakan poros dakwah para nabi dan rasul dan fokus dakwah mereka adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadits yang valid dari beliau:
الأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ مِنْ عَلَّاتٍ، وَأُمَّهَاتُهُمْ ِشَتَّى، وَدِيْنُهُمْ وَحِدٌ
“Para nabi adalah saudara seayah. Ibu mereka berbeda-beda, dan agama mereka satu.”[1]
Makna agama mereka satu, yakni akidah (keyakinan) mereka satu. Setiap orang dari mereka adalah penyeru yang mengajak untuk mentauhidkan Allah. Makna ibu mereka berbeda-beda, yakni syariat mereka berbeda-beda. Allah berfirman:
لِكُلّٖ جَعَلۡنَا مِنكُمۡ شِرۡعَةٗ وَمِنۡهَاجٗاۚ
“Untuk setiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (Al-Maidah: 48)
- 3. Tauhid merupakan kewajiban pertama bagi mukallaf (orang yang dibebani syariat)
Kewajiban pertama bagi seseorang yang ingin masuk ke dalam agama ini adalah tauhid. Perkara pertama yang dimulai oleh orang yang berdakwah di jalan Allah adalah tauhid. Banyak dalil yang menunjukkan akan hal ini, diantaranya adalah sabda Nabi ﷺ:
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah.”[2]
Juga sabda beliau kepada Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu ketika beliau mengutusnya ke Yaman:
إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ أَهْلِ كِتَابٍ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ عِبَادَةُ اللَّهِ
“Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum, yaitu ahli kitab, maka hendaklah perkara pertama yang engkau serukan kepada mereka adalah menyembah Allah.”[3]
Di dalam riwayat lain disebutkan dengan lafadz:
إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الكِتَابِ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى
“Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari ahli kitab. Maka hendaklah perkara pertama yang engkau serukan kepada mereka adalah agar mereka mentauhidkan Allah ta’alaa.”[4]
Di dalam riwayat lain lagi disebutkan dengan lafadz:
إِنَّكَ سَتَأْتِي قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ، فَإِذَا جِئْتَهُمْ، فَادْعُهُمْ إِلَى أَنْ يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
“Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum, yaitu ahli kitab. Maka apabila engkau telah sampai kepada mereka serulah mereka agar bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah.”[5]
Maka tauhid adalah kewajiban pertama bagi para mukallaf (orang yang dibebani syariat) dan dengan tauhid dimulailah dakwah kepada mereka. Dan tauhid adalah perkara pertama yang dengannya seseorang bisa masuk ke dalam agama ini. Oleh karena itu, agama ini berdiri di atas tauhid dan tauhid merupakan pondasi dasar yang diatasnya dibangunlah agama ini.
- 4. Tauhid merupakan sebab keamanan dan diperolehnya petunjuk di dunia dan akhirat
Allah berfirman:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.” (Al-An’am: 82)
Keamanan berada di tangan Allah. Allah tidak memberikannya, kecuali untuk ahli tauhid yang mengikhlaskan agama untuk Allah subhânahu wata’alâ. Ketika ayat ini turun -sebagaimana disebutkan di dalam hadits yang shahih-, ayat ini terasa berat bagi para sahabat radhiyallâhu ‘anhum dan mereka mendatangi Nabiﷺ seraya berkata: “Wahai Rasulullah! Siapakah diantara kami yang ia tidak menzalimi dirinya sendiri?”
Maksudnya tidak ada seorangpun dari kami kecuali ia adalah orang yang berbuat zalim kepada dirinya, sedangkan Allah berfirman: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kedhaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.” Maka kami tidak akan mendapatkan keamanan dan petunjuk karena setiap dari kami adalah orang yang berbuat zalim kepada dirinya.
Maka Nabi ﷺ bersabda: “Tidaklah demikian (makna kezaliman dalam ayat itu), tidakkah kalian membaca perkataan hamba yang shalih -Lukman Al-Hakim dalam Al-Quran-:
إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيم
“Sesungguhnya kesyirikan benar-benar kedhaliman yang besar.” (Lukman: 13)
Maka Nabi ﷺ menafsirkan kezaliman di dalam ayat ini dengan syirik. Oleh karena itu, ayat ini memberikan faedah bahwa barangsiapa yang beriman dan tidak berbuat syirik, maka ia mendapatkan kemanan dan petunjuk di dunia dan akhirat.
Maka diantara keistimewaan tauhid adalah barangsiapa yang menjadi ahli tauhid Allah akan memberikannya keamanan dan petunjuk di dunia dan akhirat.
- 5. Substansi tauhid selamat dari kontradiksi
Diantara keistimewaan tauhid adalah substansinya selamat dari kontradiksi. Berbeda dengan akidah-akidah yang lain, akidah selain tauhid substansinya rancu dan saling bertentangan. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah subhânahu wata’alâ:
وَلَوۡ كَانَ مِنۡ عِندِ غَيۡرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ ٱخۡتِلَٰفٗا كَثِيرٗا
“Sekiranya (Al-Quran) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.” (An-Nisa: 82)
Akidah-akidah (keyakinan-keyakinan) yang dibuat oleh manusia dan dikarang oleh mereka terdapat banyak kerancuan dan kontradiksi dalam substansinya. Adapun iman yang benar, akidah yang selamat, dan keyakinan tauhid yang kokoh yang bersumber dari Al-Quran dan sunnah Nabi ﷺ selamat dari itu semua.
- 6. Tauhid sesuai dengan fitroh yang selamat dan akal yang sehat
Tauhid adalah pokok agama yang sesuai dengan fitroh. Seandainya manusia dibiarkan bersama dengan fitrohnya niscaya mereka tidak akan menerima keyakinan selain tauhid. Hal itu dikarenakan tauhid dan fitroh saling bersesuaian, bahkan tauhid sendiri merupakan fitroh sebagaimana firman Allah subhânahu wata’alâ:
فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Ar-Rum: 30)
Adapun kesyirikan, maka ia keluar dan menyimpang dari fitroh. Oleh karena itu, disebutkan di dalam hadits qudsiy yang terdapat di dalam shahih Muslim bahwasanya Allah berfirman:
وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ
“Dan Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan mereka lurus semuanya. Dan sesungguhnya setan-setan mendatangi mereka lalu memalingkan mereka dari agama mereka.”[6]
Di dalam hadits tersebut makna “Aku telah menciptakan hamba-hambaKu dalam keadaan mereka lurus”, yakni Allah menciptakan para hamba di atas fitroh yaitu tauhid. Kemudian para setan menyimpangkan mereka dari agama mereka.
Disebutkan di dalam shahih Bukhari dari hadits Abu Hurairah radhiallâhu ‘anhu bahwasanya Rasulullahﷺ bersabda:
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، وَيُنَصِّرَانِهِ، كَمَا تُنْتِجُونَ البَهِيمَةَ، هَلْ تَجِدُونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ، حَتَّى تَكُونُوا أَنْتُمْ تَجْدَعُونَهَا؟
“Tidak ada seorang anak pun yang lahir melainkan ia dilahirkan di atas fitroh. Lalu kedua orangtuanyalah yang menjadikannya yahudi, atau nasrani. Sebagaimana kalian membiakkan hewan ternak, apakah kalian mendapatinya terpotong telinganya, hingga kalianlah yang membuatnya terpotong telinganya?”[7]
Di dalam riwayat lain disebutkan:
فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، وَيُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَا تُنْتَجُ البَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ، هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟
“Lalu kedua orangtuanyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani, atau majusi. Sebagaimana hewan ternak dilahirkan dalam keadaan utuh, apakah kalian mendapatinya terpotong telinganya?”[8]
Hewan ternak lahir dari perut induknya dalam keadaan utuh, lengkap kedua telinga dan anggota tubuhnya. Apabila kemudian ia terpotong kakinya, tangannya, telinganya, atau anggota tubuh yang lainnya maka hal itu bukan berasal dari keadaan bentuk aslinya. Akan tetapi, itu disebabkan oleh perbuatan manusia setelah hewan ternak tersebut lahir dalam keadaan sempurna.
Di dalam hadits ini disebutkan: حَتَّى تَكُونُوا أَنْتُمْ تَجْدَعُونَهَا “hingga kalianlah yang membuatnya terpotong telinganya”. Maka demikian pula anak yang lahir, ia terlahir di atas fitroh. Apabila kemudian ia menjadi nasrani, yahudi atau majusi, atau berada pada penyimpangan, kebatilan dan kesesatan yang lain, maka ini terjadi akibat ulah kedua orangtuanya atau lingkungan sekitarnya.
Di dalam hadits ini Rasulullah ﷺ bersabda:
فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ “Lalu kedua orangtuanyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani, atau majusi”. Beliau tidak mengatakan “atau menjadikannya muslim”, mengapa demikian? Karena anak yang lahir terlahir di atas fitroh. Oleh karena itu, tauhid merupakan agama fitroh.
Adapun kesyirikan dan kesesatan serta kebatilan yang lainnya, semua itu bertentangan dengan fitroh dan menyelisihinya. Adapun tauhid ia serasi dengan akal yang lurus. Akal yang sehat yang tidak menyimpang tidak akan ridho dan tidak akan menerima selain tauhid. Siapakah orang yang memiliki akal sehat yang ridho dengan beranekaragamnya tuhan? Atau siapakah orang yang memiliki akal sehat yang ridho terhadap menggantungkan hati kepada kubah-kubah serta tanah (yang disembah-sembah)? Allah berfirman:
ءَأَرۡبَاب مُّتَفَرِّقُونَ خَيۡرٌ أَمِ ٱللَّهُ ٱلۡوَٰحِدُ ٱلۡقَهَّارُ ٣٩ مَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِهِۦٓ إِلَّآ أَسۡمَآءٗ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٍۚ
“Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang mahaEsa mahaPerkasa? (39) Apa yang kalian sembah selain Dia, hanyalah nama-nama yang kalian buat-buat, baik oleh kalian sendiri maupun oleh nenek moyang kalian. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang hal (nama-nama) itu.” (Yusuf: 93-94)
Berkata Zaid bin ‘Amr bin Nufail seorang ahli tauhid di zaman jahiliyyah ketika meninggalkan agama kaumnya:
أَرَبًّا وَاحِدًا أَمْ أَلْفَ رَبٍّ أَدِيْنُ إِذَا تَقَسَّمَتِ الْأُمُوْرُ
عَزَلْتُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى جَمِيْعًا كَذَلِكَ يَفْعَلُ الْجَلِدُ الصَّبُورُ
فَلَا عُزَّى أَدِيْنُ وَلَا ابْنَتَيْهَا وَلَا صَنَمَيْ بَنِي عَمْرٍو أَدِيْرُ
Kepada satu tuhan atau seribu tuhan
Aku beribadah apabila urusan-urusan telah tercerai berai
Aku tinggalkan Lâta dan ‘Uzzâ semuanya
Demikianlah orang yang kuat lagi sangat sabar berbuat
Maka bukanlah kepada ‘Uzza dan dua anak perempuannya aku beribadah
Tidak pula kepada dua berhala Bani ‘Amir aku menghamba
Dan dahulu ia mencela sesembelihan kaum quraiys dan berkata: “Kambing yang Allah ciptakan dan Allah turunkan untuknya air dari langit dan Allah tumbuhkan untuknya rumput dari bumi lalu kalian sembelih dengan menyebut nama selain Allah” Ia mengatakan demikian untuk mengingkari perbuatan kaum quraiys.
Tidak ada yang lebih jelas dan lebih gamblang di dalam akal daripada pengetahuan akan sempurnanya pencipta alam ini, bersihnya Allah dari aib dan kekurangan, serta esanya Allah dalam hak ketundukan para hamba. Para rasul hadir membawa peringatan dan penjelasan mengenai pengetahuan ini. Kebaikan tauhid dan keburukan syirik telah ada di dalam akal dan fitroh dan telah diketahui oleh orang yang memiliki hati yang hidup, akal yang sehat serta fitroh yang benar.
- 7. Tauhid merupakan ikatan persatuan yang sesungguhnya yang abadi serta berlanjut di dunia dan akhirat
Secara mutlak, tidak ada ikatan persatuan antara manusia yang semisal dengan tauhid. Ikatan persatuan yang ada di antara ahli tauhid dan ahli iman merupakan ikatan yang abadi berlangsung terus menerus di dunia dan akhirat. Allah berfirman:
ٱلۡأَخِلَّآءُ يَوۡمَئِذِۭ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلۡمُتَّقِينَ
“Teman-teman karib pada hari itu (hari kiamat) saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.” (Az-Zukhruf: 67)
Allah berfirman di ayat yang lain:
وَتَقَطَّعَتۡ بِهِمُ ٱلۡأَسۡبَابُ
“Dan (ketika) hubungan antara mereka terputus.” (al-Baqarah: 166)
Maksud “hubungan antara mereka terputus” yakni ikatan dan hubungan antara mereka terputus. Setiap hubungan akan terputus dan setiap kecintaan akan hilang kecuali kecintaan dan hubungan karena tauhid dan iman kepada Allah. Perkara apapun yang dilandasi karena Allah akan kekal dan bersambung dan perkara apapun yang dilandasi karena selain Allah akan terputus. Sekuat dan sedalam apapun ikatan persatuan pasti akan berakhir, entah di dunia atau di akhirat, kecuali hubungan yang berdiri di atas mentauhidkan Allah dan berdiri di atas keimanan kepada Allah. Ia adalah hubungan yang kekal dan berlangsung terus menerus di dunia dan akhirat.
- 8. Tauhid berasal dari sumber yang selamat
Tauhid bersumber dari mata air yang tawar dan jernih. Ia bersumber dari kitab Allah sang pemilik kemuliaan dan sunnah Rasulullah ﷺ yang beliau tidaklah berkata berdasarkan hawa nafsu. Tidaklah beliau menyampaikan, kecuali wahyu. Akan datang penjelasan rincinya.
- 9. Teguh dan terjaganya tauhid
Allah tabâraka wata’alâ menjamin akan menjaga serta mengekalkan tauhid dan agama ini. Allah ta’alâ berfirman:
هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ
“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (At-Taubah: 33)
Allah juga berfirman:
إِنَّ ٱللَّهَ يُدَٰفِعُ عَنِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْۗ
“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman.” (Al-Hajj: 38)
Allah juga berfirman:
يُثَبِّتُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱلۡقَوۡلِ ٱلثَّابِتِ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِۖ
“Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang tehuh (dalam kehidupan) di dunia dan akhirat.” (Ibrahim: 27)
Disusun oleh:
Affan Luthfi Aldy
Dengan merujuk kepada kitab Min Ma’âlim at-Tauhîd, karyan Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafidzahullâh
[1] Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2365) dari Sahabat Abû Hurairah radhiallâhu ‘anhu.
[2] Diriwayatkan oleh al-Bukhâriy (no. 25 dan no. 1399) dan Muslim (no. 21 dan no. 22) dari Sahabat Abû Hurairah, Ibnu Umar dan yang lainnya.
[3] Diriwayatkan oleh al-Bukhâriy (no. 1458) dan Muslim (no. 19).
[4] Diriwayatkan oleh al-Bukhâriy (no. 7372).
[5] Diriwayatkan oleh al-Bukhâriy (no. 1496).
[6] Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2865) dari hadits ‘Iyâdh bin Himâr Al-Mujâsyi’i radhiallâhu ‘anhu.
[7] Diriwayatkan oleh al-Bukhâriy (no. 6599).
[8] Diriwayatkan oleh al-Bukhâriy (no. 1358) dan Muslim (no. 2658).
Sahabat Umar Mengenal Alloh, Agama Islam, dan Rosulnya