Di antara perkara yang patut diketahui oleh seorang hamba adalah dosa dan maksiat memiliki dampak yang buruk. Orang yang melakukan maksiat terancam mendapatkan dampak buruk tersebut. Dampak buruk yang beraneka ragam dan bertingkat-tingkat sesuai dengan kadar dosa yang dilakukan. Dampak buruk yang dapat menimpa hati dan badan serta dapat terjadi di dunia dan akhirat.
Di dalam al-Quran Allah menyebutkan berbagai kisah umat terdahulu. Berbagai keburukan menimpa mereka tidak lain terjadi karena dosa dan maksiat yang mereka lakukan. Apa penyebab kedua orang tua kita, yaitu Adam dan Hawa diturunkan ke bumi dari surga yang penuh dengan kenikmatan? Apa yang menyebabkan Iblis dikeluarkan dari kerajaan langit dan menjadikannya terusir dan terlaknat? Apa yang menyebabkan penduduk bumi tenggelam di zaman Nabi Nuh dan menjadikan air naik hingga puncak-puncak gunung? Apa yang menyebabkan kaum ‘Ad ditimpa angin yang membinasakan sehingga mereka mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah lapuk? Apa yang menyebabkan negeri kaum Nabi Luth diangkat ke langit hingga para malaikat mendengar suara gong-gongan anjing mereka lantas negeri itu dibalik kemudian mereka dihujani dengan batu? Apa yang menyebabkan awan azab menaungi kaum Nabi Syuaib, lantas ketika awan itu tepat di atas mereka awan itu menghujani mereka dengan api yang menyala? Apa yang menyebabkan Fir’aun dan kaumnya tenggelam di lautan dan ditimpa siksaan setelah sebelumnya berada di kerajaan yang penuh dengan kemewahan? Tidak lain semua itu terjadi karena dosa dan maksiat yang mereka lakukan.
Adanya dampak buruk dari dosa dan maksiat telah diketahui dan dipahami oleh para salafusshalih. Oleh karena itu, diriwayatkan dari sebagian mereka bahwa ketika terjadi keburukan berupa bencana alam, mereka menilai bahwa penyebabnya adalah dosa dan maksiat. Ibnu Abid Dunya meriwayatkan dari Shafiyyah radhiallâhu ‘anhâ bahwa pernah terjadi gempa pada zaman kepemimpinan Umar bin al-Khattab, lantas beliau berkata:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ مَا هَذَا؟ مَا أَسْرَعَ مَا أَحْدَثْتُم، لَئِنْ عَادَتْ لَا أُسَاكِنُكُمْ فِيهَا
“Wahai manusia, apa ini? Betapa cepat kalian mengadakan (perbuatan maksiat), jika gempa ini terjadi lagi aku tidak akan tinggal bersama kalian lagi di Madinah.”[1]
Diriwayatkan pula dari Umar bin Abdul Aziz bahwa di masa kepemimpinan beliau terjadi gempa bumi. Lantas beliau mengirim surat ke berbagai daerah yang berada di bawah kekuasaan beliau. Diantara isi surat tersebut adalah:
أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ هَذَا الرَّجْفَ شَيْءٌ يُعَاتِبُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ الْعِبَادَ
“Amma ba’du, sesungguhnya gempa ini adalah sesuatu yang Allah ‘azza wajalla gunakan sebagai teguran bagi para hambaNya.”[2]
Ketika keadaannya demikian, maka wajib bagi seorang hamba untuk menjauhi dosa dan maksiat kepada Allah subhânahu wata’âlâ. Diantara perkara yang dapat membantunya untuk menjauhi dosa dan maksiat tersebut adalah mengetahui sebab-sebab pendorong untuk meninggalkan dosa dan maksiat. Diantara sebab-sebab pendorong tersebut adalah:
- Mengingat Kebesaran Allah ta’alaa
Allah subhânahu wata’âlâ mahaBesar. Di antara hal yang menunjukkan kebesaran Allah adalah Allah subhanahu wata’alaa pada hari kiamat mengenggam bumi dan menggulung langit. Allah berfirman:
وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka sekutukan.” (Qs. Az-Zumar: 67)
Seorang hamba apabila jiwanya mengajaknya untuk melakukan dosa lantas ia mengingat dengan hatinya keagungan Allah dan mengingat bahwa Allah mengetahui perkataan dan perbuatannya, niscaya dengan izin Allah ia akan tercegah dari melakukan dosa tersebut. Oleh karena itu, Bisyr bin al-Hârits al-Hâfiy berkata:
لَوْ تَفَكَّرَ النَّاسُ فِي عَظَمَةِ اللهِ تَعَالَى لَمَا عَصَوْهُ
“Seandainya manusia merenungkan keagungan Allah, niscaya mereka tidak akan memaksiati Allah.”[3]
- Mengingat bahwa Kita Cinta kepada Allah
Allah ta’alaa berfirman:
وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
“Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.” (al-Baqarah: 165)
Apabila seroang hamba menyibukkan hatinya dengan cinta kepada Allah, niscaya hal itu akan memalingkannya dari sibuk melakukan apa yang Allah murkai. Disebutkan di dalam syair:
تَعْصِي الإِلَهَ وَأَنْتَ تُظْهِرُ حُبَّهُ
هَذَا مُحَالٌ فِي القِيَاسِ بَديعُ
لَوْ كَانَ حُبُّكَ صَادِقًا لأَطَعْتَهُ
إِنَّ المُحِبَّ لِمَنْ يُحِبُّ مُطِيعُ
Engkau durhaka kepada Allah sedang engkau mengaku cinta kepada-Nya
Ini secara nalar tidak mungkin terjadi
Jika cintamu jujur niscaya engkau akan menaati-Nya
Sesungguhnya orang yang mencintai itu taat kepada yang dicintai[4]
- Mengingat Nikmat Allah yang Allah Berikan kepada Kita
Nikmat yang Allah berikan kepada kita banyak sekali. Seluruh nikmat yang kita rasakan itu berasal dari Allah. Kita tidak bisa menghitung nikmat Allah tersebut. Allah berfirman:
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya.” (Ibrahim: 34)
Seorang hamba hendaklah berhati-hati dari membalas kebaikan yang Allah berikan kepadanya dengan keburukan berupa memaksiati-Nya.
Abdul Ghaniy al-Maqdisiy menyebutkan di dalam kitab at-Tawwâbîn kisah seorang ulama, yaitu Ibrâhîm bin Adham yang menasihati seseorang supaya meninggalkan maksiat salah satunya dengan mengingatkannya akan nikmat yang Allah berikan kepadanya[5]. Dikisahkan bahwa seroang laki-laki menemui beliau dan mengadukan kepada beliau tentang dirinya yang melampaui batas kemudian meminta supaya beliau memberikan nasihat yang bisa mencegahnya dari perbuatan melampaui batas dan dosa. Ibrahim bin Adham pun berkata kepadanya: “Jika engkau bisa menerima lima perkara dan bisa melakukannya, maka maksiat tidak akan membahayakanmu dan kelezatan maksiat tidak akan membinasakanmu”
Laki-laki itu berkata: “Sebutkan kelima hal itu wahai Abu Ishaq (Ibrâhîm bin Adham)!”
Ibrahim bin Adham berkata: “Yang pertama: Jika engkau ingin untuk bermaksiat kepada Allah, maka jangan engkau memakan rezeki dari Allah.”
Laki-laki itu berkata: “Lalu dari mana aku makan sedangkan segala yang ada di bumi adalah rezeki dari Allah?”
Ibrahim bin Adham berkata: “Wahai kamu ini, apakah patut engkau memakan rezeki dari Allah dan engkau memaksiati-Nya?
Laki-laki itu berkata: “Tidak, sebutkan yang kedua!”
Ibrahim bin Adham berkata: “Jika engkau hendak bermaksiat kepada Allah, maka jangan engkau tinggal di negeri milik Allah.”
Laki-laki itu berkata: “Ini lebih besar daripada yang pertama, jika timur, barat, dan apa yang ada diantara keduanya adalah milik Allah lalu di mana aku akan tinggal?
Ibrahim bin Adham berkata: “Wahai kamu ini, apakah patut engkau memakan rezeki dari Allah dan engkau tinggal di negeri-Nya sedang engkau memaksiati-Nya?”
Laki-laki itu berkata: “Tidak, sebutkan yang ketiga!”
Ibrahim bin Adham berkata: “Jika engkau ingin bermaksiat kepada Allah sedang engkau masih memakan rezeki dari Allah dan engkau berada di negeri milik Allah, maka carilah tempat yang Allah tidak melihatmu, lalu maksiatilah Allah di sana!”
Laki-laki itu berkata: “Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi, sedangkan Allah saja mengetahui rahasia-rahasia yang tersembunyi?”
Ibrahim bin Adham berkata: “Wahai kamu ini, apakah patut engkau memakan rezeki dari Allah, tinggal di negeri-Nya lantas engkau memaksiati-Nya padahal Dia melihat apa yang engkau lakukan?”
Laki-laki itu berkata: “Tidak, sebutkan yang keempat!”
Ibrahim bin Adham berkata: “Apabila malaikat maut datang untuk mencabut nyawamu maka katakan kepadanya: ‘Berikan aku waktu tangguhan supaya aku bertaubat dengan taubat nasuha dan beramal shalih untuk Allah!’!”
Laki-laki itu berkata: “Malaikat maut tidak akan menerima permintaanku.”
Ibrahim bin Adham berkata: “Wahai kamu ini, jika engkau tidak mampu untuk menolak kematian guna bertaubat, dan engkau tahu jika kematian datang tidak akan ada penangguhan lantas bagaimana engkau bisa lolos?”
Laki-laki itu berkata: “Sebutkan yang kelima!”
Ibrahim bin Adham berkata: “Apabila malaikat Zabaniyyah mendatangimu pada hari kiamat untuk membawamu ke neraka jangan mau pergi bersama mereka!”
Laki-laki itu berkata: “Mereka tidak akan membiarkanku dan tidak akan menerima permintaanku.”
Ibrahim bin Adham berkata: “Ketika demikian bagaimana engkau berharap bisa selamat?”
Laki-laki itu berkata: “Wahai Ibrahim, cukup, cukup, aku meminta ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.”
Inilah diantara sebab pendorong meninggalkan dosa dan maksiat yang bisa diuraikan dalam tulisan ini. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk mengamalkan apa yang Allah cintai dan meninggalkan apa yang Allah benci, sesungguhnya Allah mahaMendengar lagi mahaMengetahui.
Disusun oleh:
Affan Luthfi Aldy
[1] Diriwayatkan oleh Ibnu Abî Syaibah (8335), Ibnu Abid Dunyâ dalam al-‘Uqûbât (20) dan al-Baihaqiy dalam as-Sunan al-Kubrō (3/342).
[2] Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam al-‘Uqûbât (23).
[3] Lihat Tafsîr al-Qurân al-‘Adhîm karya Ibnu Katsir (2/184).
[4] Bait-bait syair ini dinisbatkan kepada Imam asy-Syâf’iy dan Ibnul Mubârok. Lihat Dîwân asy-Syâfi’iy hal. 76 dan lihat pula Dîwân Ibnul Mubârok hal. 15.
[5] At-Tawwâbîn hal. 285.
Sahabat Umar Mengenal Alloh, Agama Islam, dan Rosulnya