Islam adalah agama yang sempurna. Ia mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Tidak ada kemaslahatan bagi umat manusia, melainkan diperintahkan dan didukung oleh Islam. Tidak ada keburukan dan bahaya untuk mereka, melainkan dilarang dan dicegah oleh Islam. Barangsiapa mengaplikasikan ajaran Islam dengan sebenar-benarnya, maka ia akan menjadi manusia yang paling sempurna dan paling lurus dalam seluruh aspek kehidupan.
Di antara aspek yang diperhatikan oleh Islam adalah akhlak. Islam memerintahkan manusia untuk memiliki akhlak yang baik dan mengabarkan bahwa Allah menyiapkan balasan yang baik bagi pemiliknya. Islam melarang manusia dari akhlak yang buruk dan mengabarkan bahwa pemiliknya akan mendapatkan balasan yang buruk. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidziy Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلاَقًا، وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالمُتَشَدِّقُونَ وَالمُتَفَيْهِقُونَ
“Sesungguhnya termasuk orang yang paling aku cintai dari kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah orang-orang yang paling baik akhlaknya. Dan sesungguhnya orang yang paling aku benci dari kalian dan paling jauh tempat duduknya dariku pada hari kiamat adalah orang-orang yang banyak bicaranya, orang-orang yang pandai bersilat lidah, dan orang-orang yang sombong.”[1]
Hadits di atas menunjukkan keutamaan akhlak yang baik, keutamaan pemiliknya serta motivasi untuk memiliki akhlak yang baik dan menjauhi akhlak yang buruk.
Salah satu akhlak mulia yang diperintahkan oleh Islam adalah tawâdhu’ (rendah hati). Akhlak mulia ini merupakan salah satu sifat penghuni surga. Allah ta’âlâ berfirman:
تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
“Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Qashâsh: 83)
Ibnu Katsîr berkata berkaitan dengan ayat ini:
“Allah ta’âlâ mengabarkan bahwa negeri akhirat dan kenikmatannya yang kekal yang tidak hilang dan tidak sirna Allah jadikan untuk orang-orang yang beriman lagi tawadhu’ yang tidak memiliki keinginan untuk sombong dan congkak terhadap makhluk ciptaan Allah serta tidak pula menginginkan kerusakan bagi mereka.”[2]
Orang yang tawâdhu’ adalah orang yang menjauhi berbangga dengan kelebihan yang dimiliki, menjauhi berbangga dengan kedudukan dan harta, dan menjaga diri dari ujub dan sombong.[3] Tawâdhu’ merupakan akhlak yang diperintahkan oleh Allah. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim Rasulullah ﷺ bersabda:
وَإِنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ، وَلَا يَبْغِي أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ
“Dan Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawâdhu’ sehingga tidak ada seorangpun yang membanggakan diri terhadap orang lain, dan tidak ada seorangpun yang berbuat aniaya terhadap orang lain.”[4]
Tawâdhu’ merupakan salah satu tanda kebahagiaan bagi seorang hamba. Ibnul Qayyim berkata di dalam kitab al- Fawâid:
“Di antara tanda kebahagiaan dan keberuntungan adalah seorang hamba ketika semakin bertambah ilmunya, maka bertambah pula ketawâdhu’an dan belas kasihnya, semakin bertambah amalnya, maka semakin bertambah pula rasa takut dan kewaspadaannya, semakin bertambah umurnya, maka semakin berkurang ketamakannya, semakin bertambah hartanya, maka semakin bertambah kedermawanannya, dan semakin bertambah tinggi kedudukannya, maka semakin bertambah kedekatannya dengan manusia, bertambah upayanya dalam membantu kebutuhan mereka, dan bertambah ketawâdhu’annya terhadap mereka.”[5]
Sebagaimana Allah memerintahkan tawâdhu’, sebaliknya Allah melarang akhlak yang bertentangan dengannya, yaitu sombong. Allah melarang manusia dari sombong dan mengabarkan akibat-akibat yang buruk bagi pemiliknya sebagai hukuman untuknya. Di antara hukuman bagi orang yang sombong adalah apa yang disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidziy bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ، يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ، فَيُسَاقُونَ إِلَى سِجْنٍ فِي جَهَنَّمَ يُسَمَّى بُولَسَ، تَعْلُوهُمْ نَارُ الْأَنْيَارِ، يُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ طِينَةَ الْخَبَالِ
“Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan tubuh mereka seukuran semut tetapi berbentuk manusia. Mereka diliputi oleh kehinaan dari segala sisi, lantas mereka digiring menuju penjara di dalam neraka Jahannam yang disebut Bûlas, mereka dikelilingi oleh api. Mereka diberi minum dari, perasannya para penghuni neraka, yaitu thînatul khabâl.”[6]
Allah menjanjikan balasan yang baik bagi pemilik akhlak tawadhu’. Diantara balasannya adalah apa yang disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ
“Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambah untuk seorang hamba dengan sebab maaf yang ia berikan melainkan kemuliaan. Tidaklah seseorang tawâdhu’ (rendah hati) karena Allah, melainkan Allah akan mengangkatnya.”[7]
Dalam hadits ini disebutkan bahwa Allah akan mengangkat orang yang tawadhu’ dengan ikhlas karena-Nya. An-Nawawiy menjelaskan bahwa makna dari Allah mengangkat orang yang tawâdhu’ dalam hadits ini ada dua, yaitu:
- Allah mengangkatnya di dunia, yakni karena ketawâdhu’annya Allah jadikan ia memiliki kedudukan di hati manusia, Allah mengangkat derajatnya di sisi mereka, dan Allah memuliakan kedudukannya.
- Allah mengangkatnya di akhirat karena sebab ketawâdhu’annya ketika di dunia.
Para ulama menyebutkan bahwa maksud dari diangkat oleh Allah sebagai balasan untuk orang yang tawâdhu’ dalam hadits ini mencakup kedua makna tersebut, yaitu diangkat oleh Allah di dunia dan akhirat.[8]
Balasan bagi pemilik akhlak tawadhu’ berupa diangkat oleh Allah bisa kita saksikan dari sebagian hamba Allah yang shalih. Sebagian mereka memiliki kedudukan yang tinggi di hati manusia dan nama mereka harum ketika mereka masih hidup dan juga setelah mereka meninggal diantara sebabnya adalah karena mereka memiliki akhlak tawadhu’. Tatkala masih hidup kemuliaan yang mereka miliki, jabatan yang mereka duduki dan kelebihan yang ada pada mereka tidak membuat mereka sombong. Akan tetapi, mereka bersikap tawadhu’ dengan apa yang ada pada mereka. Berikut ini sebagian potret ketawadhu’an mereka, yaitu sebagian hamba Allah yang shalih yang mereka telah meninggal dunia, tetapi kedudukan mereka hingga saat ini begitu tinggi di hati manusia dan nama mereka begitu harum:
- Umar bin Abdul Azîs
Ibnu Abdil Hakîm dalam kitabnya menyebutkan bahwa suatu malam ada beberapa orang yang berada di sisi Umar bin Abdul Azis untuk membantu urusan beliau. Tiba-tiba lampu beliau padam, maka beliau pun beranjak menuju lampu itu lantas memperbaikinya. Maka ada orang yang berkata: “Wahai Amîrul Mu’minîn, tidakkah cukup kami saja yang melakukannya?” Lantas beliau berkata: “Apa bahayanya bagiku (ketika aku yang melakukannya)? Ketika aku beranjak untuk memperbaikinya aku Umar bin Abdul Azis dan ketika aku selesai dari memperbaikinya aku tetap Umar bin Abdul Azis.[9]
- Syaikhul Islam Ibnu Taiymiyyah
Berkata al-Bazzâr ketika menyebutkan ketawadhu’an Ibnu Taiymiyyah:
“Adapun ketawadhu’an Ibnu Taiymiyyah, maka aku tidak pernah melihat dan tidak pula pernah mendengar seseorang yang semasa dengan beliau yang seperti beliau dalam ketawadhu’an. Beliau tawadhu’ kepada orang yang tua dan yang muda, orang yang mulia dan orang yang biasa, serta orang kaya yang shalih dan orang yang fakir. Beliau mendekatkan orang fakir yang shalih, memuliakannya, bersikap ramah, serta bersikap hangat kepadanya dengan pembicaraan yang manis yang lebih daripada pembicaraan yang ditujukan kepada orang-orang yang kaya, sampai-sampai kerap kali beliau melayani orang fakir dan membantu membawa kebutuhannya guna menghibur hatinya dan guna mendekatkan diri kepada Allah dengan apa yang beliau lakukan tersebut.[10]
- Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn
`Disebutkan oleh al-Walîd bin Ahmad al-Husain bahwa Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn pernah menaiki mobil tua yang sering mogok bersama salah seorang yang mencintai beliau. Ketika berada di tengah perjalanan, mobil tersebut mogok, maka Syaikh berkata kepada sang sopir: “Tetap di tempatmu, aku akan turun untuk mendorong mobil.” Lantas beliau turun dan mendorong mobil sendirian hingga mobil itu bergerak.[11]
Demikian pembahasan singkat berkaitan dengan salah satu akhlak yang mulia, yaitu tawâdhu’ ini. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang berakhlak tawâdhu’ dan meninggikan derajat kita di dunia dan di akhirat.
Disusun oleh:
Affan Luthfi Aldy
[1] Diriwayatkan oleh at-Tirmidziy (2018).
[2] Tafsir Ibnu Katsîr (6/258).
[3] Lihat Taḥdziîbul Akhlâq karya al-Jâḥidh, hal. 25.
[4] Diriwayatkan oleh Muslim (2865).
[5] Al-Fawâid, karya Ibnul Qayyim, hal. 155.
[6] Diriwayatkan oleh at-Tirmidziy (2492) dan dinilai hasan oleh al-Albâniy.
[7] Diriwayatkan oleh Muslim (2588).
[8] Lihat Syarhu Shahîh Muslim, karya an-Nawawiy, jilid 16 hal. 142.
[9] Sîroh Umar bin Abdil Azîs, karya Ibnu Abdil Hakîm, hal. 46.
[10] Al-A’lâm al-‘Aliyyah, karya al-Bazzâr, hal. 50.
[11] Al-Jâmi’ Li Hayâti al-‘Allâmah Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn, karya al-Walîd bin Ahmad al-Husain, hal. 42.
Sahabat Umar Mengenal Alloh, Agama Islam, dan Rosulnya