Di antara amalan hati yang agung adalah rojâ’ (berharap kepada Allah) dan khouf (takut kepada Allah). Keduanya adalah amalan hati yang sangat penting bagi seorang hamba karena keduanya termasuk sifat hamba-hamba Allah yang shalih dan merupakan unsur kebaikan. Allah telah berfirman:
أُو۟لَٰۤئِكَ ٱلَّذِینَ یَدۡعُونَ یَبۡتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلۡوَسِیلَةَ أَیُّهُمۡ أَقۡرَبُ وَیَرۡجُونَ رَحۡمَتَهُۥ وَیَخَافُونَ عَذَابَهُۥۤۚ
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan (mendekat) kepada Rabb mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). Mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya.” (al-Isrõ’: 57)
Syaikh as-Sa’diy berkata berkaitan dengan ayat di atas:
“Tiga perkara ini, yaitu khouf, rojâ’, dan cinta yang Allah sifati orang-orang yang didekatkan kepada-Nya dengan ketiganya merupakan inti dan unsur kebaikan. Barangsiapa yang memiliki ketiganya dengan sempurna, maka akan sempurna urusan-urusannya. Apabila hati tidak memiliki ketiganya, maka kebaikan-kebaikan akan meninggalkannya dan keburukan-keburukan akan menyelimutinya.”[1]
Rojâ’ dan Khouf harus dimiliki oleh seorang hamba. Seorang hamba tidak boleh mengamalkan salah satu saja tanpa yang kedua. Hal itu dikarenakan dalam perjalanan hamba menuju Allah rojâ’ dan khouf layaknya sayap bagi seekor burung. Ibnul Qayyim berkata:
“Hati dalam perjalanannya menuju Allah seperti burung. Cinta (kepada Allah) adalah kepalanya, khouf beserta rojâ’ adalah dua sayapnya. Selama kepala dan dua sayapnya sehat maka ia akan terbang dengan baik. Jika kepalanya terpotong, niscaya matilah burung tersebut. Jika kedua sayapnya hilang, niscaya ia akan terancam (keselamatannya) oleh setiap pemburu dan predator.”[2]
Al-Quran memotivasi para hamba untuk memiliki rasa harap dan rasa takut kepada Allah. Banyak ayat di dalam al-Quran yang mendorong para hamba untuk memiliki keduanya. Terdapat ayat-ayat yang menyebutkan bahwa Allah mahaPengampun, rahmat-Nya begitu luas, serta balasan-Nya begitu agung yang Dia siapkan untuk hamba-hamba-Nya yang menaati-Nya. Bersamaan dengan itu, terdapat pula ayat-ayat di dalam al-Quran yang menyebutkan bahwa hukuman Allah begitu pedih, Allah tidak lengah dari kezaliman para hamba-Nya, serta Allah memiliki ancaman yang berat bagi para hamba-Nya yang enggan menaati-Nya. Semua itu Allah sebutkan untuk menjadikan para hamba memiliki rasa harap serta rasa takut kepada Allah. Allah berfirman:
وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغۡفِرَةࣲ لِّلنَّاسِ عَلَىٰ ظُلۡمِهِمۡۖ وَإِنَّ رَبَّكَ لَشَدِیدُ ٱلۡعِقَابِ
“Sungguh Rabbmu benar-benar memiliki ampunan bagi manusia atas kezaliman mereka, dan sungguh Rabbmu sangat keras siksaan-Nya.” (ar-Ra’du: 6)
Syaikh Muhammad al-Amîn asy-Syinqîthiy berkata berkaitan dengan ayat di atas:
“Allah menjelaskan di dalam ayat yang mulia ini bahwasanya Dia memiliki ampunan untuk manusia atas kezaliman yang mereka lakukan dan bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya. Maka Allah mengumpulkan antara janji (balasan kebaikan) dengan ancaman supaya menjadi besar rasa harap manusia terhadap karunia Allah dan menjadi kuat rasa takut mereka terhadap azab-Nya yang pedih.”[3]
Dari banyaknya ayat yang mendorong kepada rojâ’ terdapat beberapa ayat yang disifati oleh para ulama sebagai ayat yang paling menguatkan rasa harap kepada Allah. Demikian pula, dari banyaknya ayat yang mendorong kepada khouf terdapat beberapa ayat yang disifati oleh para ulama sebagai ayat yang paling menguatkan rasa takut kepada Allah. Di antara ayat-ayat tersebut adalah:
Ayat yang Paling Menguatkan Rojâ’
Termasuk ayat yang paling menguatkan rasa harap kepada Allah adalah firman Allah ta’âlâ:
ثُمَّ أَوۡرَثۡنَا ٱلۡكِتَٰبَ ٱلَّذِینَ ٱصۡطَفَیۡنَا مِنۡ عِبَادِنَاۖ فَمِنۡهُمۡ ظَالِمࣱ لِّنَفۡسِهِۦ وَمِنۡهُم مُّقۡتَصِدࣱ وَمِنۡهُمۡ سَابِقُۢ بِٱلۡخَیۡرَٰتِ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَضۡلُ ٱلۡكَبِیرُ (32) جَنَّٰتُ عَدۡنࣲ یَدۡخُلُونَهَا یُحَلَّوۡنَ فِیهَا مِنۡ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبࣲ وَلُؤۡلُؤࣰاۖ وَلِبَاسُهُمۡ فِیهَا حَرِیرࣱ (33) وَقَالُوا۟ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِیۤ أَذۡهَبَ عَنَّا ٱلۡحَزَنَۖ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورࣱ شَكُورٌ (34) ٱلَّذِیۤ أَحَلَّنَا دَارَ ٱلۡمُقَامَةِ مِن فَضۡلِهِۦ لَا یَمَسُّنَا فِیهَا نَصَبࣱ وَلَا یَمَسُّنَا فِیهَا لُغُوبࣱ
“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada dhâlim linafsih (yang menganiaya diri mereka sendiri) dan di antara mereka ada muqtashid (yang pertengahan) dan diantara mereka ada (pula) sâbiq bil khairât (yang lebih dahulu berbuat kebaikan) dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (32) (Bagi mereka) surga ‘Adn mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka didalamnya adalah sutera. (33) Dan mereka berkata: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampum lagi Maha Mensyukuri (34) Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; didalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu.’” (Fâthir: 32-35)
Di dalam ayat-ayat ini Allah menyebutkan tiga kelompok orang yang beriman dari umat ini, yaitu dhâlim linafsih, muqtashid, dan sâbiq bil khairât. Dhâlim linafsih adalah orang yang menaati Allah, tetapi juga memaksiati-Nya. Muqtashidadalah orang yang menaati Allah dan tidak memaksiati-Nya, tetapi ia tidak mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan yang sunnah. Sâbiq bil khairât adalah orang yang melaksanakan perkara yang wajib dan menjauhi perkara yang haram disertai mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan yang sunnah. Ketiga kelompok tersebut akan masuk ke dalam surga ‘Adn. Hal ini ditunjukkan oleh lafal “یَدۡخُلُونَهَا” yang mengandung huruf wau yang menunjukkan kepada jama’ (yaitu jumlah bilangan lebih dari dua) sehingga bermakna yang akan masuk ke dalam surga ‘Adn adalah ketiga-tiganya termasuk kelompok yang pertama, yaitu dhâlim linafsih. Oleh karena itu, sebagian ulama mengatakan bahwa huruf wau dalam lafal tersebut layak untuk ditulis dengan tinta air mata.[4] Dari sinilah mengapa ayat-ayat di atas disifati sebagai ayat yang paling menguatkan rojâ’ kepada Allah.
Akan tetapi, perlu diketahui bahwa dhâlim linafsih, muqtashid, dansâbiq bil khairât tidak sama kondisi mereka dalam memasuki surga. Sâbiq bil khairât dan muqtashidakan masuk surga dalam urutan awal tanpa hisab dan tanpa azab. Adapun dhâlim linafsih ia akan masuk surga, tetapi sebelumnya terancam mendapatkan hisab dan azab sesuai kehendak Allah, jika Allah menghendaki Allah akan mengazabnya dan jika Allah menghendaki Allah akan mengampuninya.[5]
Ayat yang Paling Menguatkan Khouf
Di antara ayat yang paling menguatkan khouf adalah firman Allah ta’âlâ:
فَذُوقُوا۟ فَلَن نَّزِیدَكُمۡ إِلَّا عَذَابًا
“Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kalian selain daripada azab.” (an-Nabâ’: 30)
Diriwayatkan dalam Tafsir ath-Thobariy bahwa ‘Abdullâh bin ‘Amr berkata:
لم تَنْزِلْ على أهلِ النارِ آيةٌ أَشدُّ مِن هذه: {فَذُوقُوا فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا}. فهم في مزيدٍ من العذابِ أبدًا
“Tidaklah turun kepada para penghuni neraka ayat yang lebih dahsyat daripada ayat ini: ‘Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kalian selain daripada azab’. Maka selamanya azab mereka bertambah.”[6]
Di dalam ayat di atas dikatakan kepada orang-orang yang mendustakan bahwa tidaklah Allah tambahkan untuk mereka, melainkan tambahan siksaan, sehingga di setiap waktu akan bertambah siksaan untuk mereka.[7] Orang yang merenungkan ayat ini akan mengetahui begitu beratnya siksaan para penghuni neraka tersebut sehingga mendorongnya untuk takut kepada Allah.
Demikian apa yang dapat diuraikan dalam tulisan ini berkaitan dengan ayat yang paling menguatkan rojâ’ dan khouf kepada Allah. Semoga Allah menjadikan kita termasuk para hamba-Nya yang bahagia di dunia dan akhirat.
Disusun oleh:
Affan Luthfi Aldy
[1] Taisîr al-Karîm ar-Raḥmân, hal. 460.
[2] Madârijus Sâlikîn, vol. 1 hal. 517.
[3] Adhwâul Bayân, vol. 3 hal. 92.
[4] Lihat Adhwâul Bayân, vol. 6 hal. 183-184.
[5] Lihat Min Ma’âlim at-Tauḥîd, hal. 26.
[6] Tafsir ath-Thabariy, vol. 24. Hal. 36.
[7] Lihat Taysîr al-Karîm ar-Raḥmân, hal. 906.
Sahabat Umar Mengenal Alloh, Agama Islam, dan Rosulnya