Tauhid Berasal dari Sumber yang Selamat

Tauhid adalah keyakinan yang benar dan iman yang lurus yang bersumber dari kitâbullâh (al-Quran) dan Sunnah Nabi ﷺ. Tauhid adalah satu-satunya kepercayaan yang didukung oleh wahyu. Setiap keyakinan yang ada di tengah manusia yang menyelisihi dan bertentangan dengan tauhid merupakan keyakinan yang terbentuk di bumi yang dibuat-buat oleh manusia. Tauhid adalah satu-satunya keyakinan yang turun dari langit dengan wahyu dari Allah. Tauhid adalah agama yang Allah ridai untuk para hamba-Nya. Allah berfirman:

وَرَضِیتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِینࣰاۚ 

“Dan telah Aku ridai Islam sebagai agama kalian.” (Al-Mâidah: 3)

Allah juga berfirman:

وَمَن یَبۡتَغِ غَیۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِینࣰا فَلَن یُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِی ٱلۡءَاخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِینَ 

“Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.” (Âli ‘Imrõn: 85)

Allah juga berfirman:

وَمَن یَرۡغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبۡرَٰهِۦمَ إِلَّا مَن سَفِهَ نَفۡسَهُۥۚ   

“Dan orang yang membenci agama Ibrahim, hanyalah orang yang memperbodoh dirinya sendiri.” (Al-Baqarah: 130)

Allah juga berfirman:

إِنَّ ٱلدِّینَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ  

Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam.” (Âli ‘Imrân: 19)

Maka tauhid merupakan wahyu dari Allah yang Allah turunkan kepada para hamba-Nya. Ia adalah agama yang Allah ciptakan makhluk karena sebabnya dan Allah jadikan mereka ada untuk merealisasikannya. Allah berfirman:

وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّٰغُوتَۖ  

Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah dan jauhilah taghut’.” (An-Naḥl: 36)

Allah juga berfirman:

أَتَىٰۤ أَمۡرُ ٱللَّهِ فَلَا تَسۡتَعۡجِلُوهُۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا یُشۡرِكُونَ (1) یُنَزِّلُ ٱلۡمَلَٰۤئِكَةَ بِٱلرُّوحِ مِنۡ أَمۡرِهِۦ عَلَىٰ مَن یَشَاۤءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۤ أَنۡ أَنذِرُوۤا۟ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱتَّقُونِ

Ketetapan Allah pasti datang, maka janganlah kalian meminta agar dipercepat (datang)nya. Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (1) Dia menurunkan para malaikat membawa wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, (dengan berfirman) yaitu, “Peringatkanlah (hamba-hamba-Ku), bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Aku, maka hendaklah kalian bertakwa kepada-Ku. (2)” (An-Naḥl: 1-2)

Adapun keyakinan selain tauhid, maka merupakan keyakinan yang terbentuk di bumi yang dibuat-buat oleh manusia. Oleh sebab itu, di antara metode para nabi dalam membantah berbagai keyakinan yang ada di tengah manusia berupa kesyirikan, kekufuran, kemunafikan dan jenis kesesatan lainnya adalah dengan menjelaskan bahwasanya keyakinan-keyakinan itu tidak didukung oleh wahyu yang diturunkan. Di antara dalil untuk hal ini adalah perkataan Nabi Yûsuf kepada dua teman penjaranya yang telah disebutkan sebelumnya:

ءَأَرۡبَابࣱ مُّتَفَرِّقُونَ خَیۡرٌ أَمِ ٱللَّهُ ٱلۡوَٰحِدُ ٱلۡقَهَّارُ (39) مَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِهِۦۤ إِلَّاۤ أَسۡمَاۤءࣰ سَمَّیۡتُمُوهَاۤ أَنتُمۡ وَءَابَاۤؤُكُم مَّاۤ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٍۚ 

“Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa Mahaperkasa? (39) Apa yang kalian sembah selain Dia, hanyalah nama-nama yang kalian buat-buat, baik oleh kalian sendiri maupun oleh nenek moyang kalian. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang hal (nama-nama) itu.” (Yûsûf: 93-94)

Allah juga berfirman:

أَفَرَءَیۡتُمُ ٱللَّٰتَ وَٱلۡعُزَّىٰ (19) وَمَنَوٰةَ ٱلثَّالِثَةَ ٱلۡأُخۡرَىٰۤ (20) أَلَكُمُ ٱلذَّكَرُ وَلَهُ ٱلۡأُنثَىٰ (21) تِلۡكَ إِذࣰا قِسۡمَةࣱ ضِیزَىٰۤ (22) إِنۡ هِیَ إِلَّاۤ أَسۡمَاۤءࣱ سَمَّیۡتُمُوهَاۤ أَنتُمۡ وَءَابَاۤؤُكُم مَّاۤ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٍۚ  

“Maka apakah patut kamu (orang-orang musyrik) menganggap (berhala) al-Lâta dan al-‘Uzza, (19) dan Manat, yang ketiga (yang) kemudian (sebagai anak perempuan Allah). (20) Apakah (pantas) untuk kamu yang laki-laki dan untuk-Nya yang perempuan? (21) Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. (22) Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan apa pun untuk (menyembah)nya.” (An-Najm: 19-23)

Allah juga berfirman mengenai Nabi Hûd yang berkata kepada kaumnya:

أَتُجَٰدِلُونَنِی فِیۤ أَسۡمَاۤءࣲ سَمَّیۡتُمُوهَاۤ أَنتُمۡ وَءَابَاۤؤُكُم مَّا نَزَّلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنࣲۚ فَٱنتَظِرُوۤا۟ إِنِّی مَعَكُم مِّنَ ٱلۡمُنتَظِرِینَ

“Apakah kalian hendak berbantah denganku tentang nama-nama (berhala) yang kalian dan nenek moyang kalian buat sendiri, padahal Allah tidak menurunkan keterangan untuk itu? Jika demikian, tunggulah! Sesungguhnya aku pun bersama kalian termasuk yang menunggu.” (Al-A’râf: 71)

Dengan demikian, sumber rujukan tauhid adalah kitâbullâh (al-Quran) dan sunnah Nabiﷺ. Ia diambil dari mata air yang murni ini. Adapun keyakinan-keyakinan yang dimiliki manusia, bisa jadi merupakan rekayasa akal mereka yang rusak, atau bisa jadi wahyu dari setan.

Wahyu itu ada dua, yaitu: wahyu dari Allah ar-Raḥmân dan wahyu dari setan. Allah berfirman:

وَإِنَّ ٱلشَّیَٰطِینَ لَیُوحُونَ إِلَىٰۤ أَوۡلِیَاۤئِهِمۡ لِیُجَٰدِلُوكُمۡۖ 

“Dan sesungguhnya setan-setan akan mewahyukan (membisikkan) kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kalian. Dan jika kalian menuruti mereka, tentu kalian telah menjadi orang musyrik.” (Al-An’âm: 121)

Allah juga berfirman:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِیٍّ عَدُوࣰّا شَیَٰطِینَ ٱلۡإِنسِ وَٱلۡجِنِّ یُوحِی بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضࣲ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورࣰاۚ 

“Dan demikianlah untuk setiap nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka mewahyukan (membisikkan) kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan.” (Al-An’âm: 112)

Allah juga berfirman:

هَلۡ أُنَبِّئُكُمۡ عَلَىٰ مَن تَنَزَّلُ ٱلشَّیَٰطِینُ 

“Maukah Aku beritakan kepada kalian, kepada siapa setan-setan itu turun?” (Asy-Syu’arõ’: 221)

Al-Mukhtâr bin Abi ‘Ubaid termasuk contoh dari ini (orang yang diberi wahyu oleh setan). Sampai-sampai dikatakan kepada Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas; dikatakan kepada salah satu dari mereka bahwa al-Mukhtâr bin ‘Ubaid mendapat wahyu, maka salah seorang dari mereka menjawab (dengan menyebutkan firman Allah):

وَإِنَّ ٱلشَّیَٰطِینَ لَیُوحُونَ إِلَىٰۤ أَوۡلِیَاۤئِهِمۡ لِیُجَٰدِلُوكُمۡۖ

“Dan sesungguhnya setan-setan akan mewahyukan (membisikkan) kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu.”

Dan dikatakan kepada salah satu dari mereka (Ibnu ‘Umar atau Ibnu ‘Abbas) bahwa al- Mukhtâr bin ‘Ubaid turun kepadanya utusan (malaikat), maka salah seorang dari mereka menjawab (dengan menyebutkan firman Allah):

هَلۡ أُنَبِّئُكُمۡ عَلَىٰ مَن تَنَزَّلُ ٱلشَّیَٰطِینُ 

“Maukah Aku beritakan kepada kalian, kepada siapa setan-setan itu turun?”[1]

Setan memberi wahyu berupa keyakinan, kepercayaan, dan was-was kepada para pelaku kesesatan yang kemudian diimani oleh mereka. Lalu mereka mengajak manusia untuk membenarkan keyakinan itu dengan bertumpu kepada bisikan yang diberikan setan kepada mereka, atau bertumpu kepada hal-hal yang didapatkan dari meditasi yang rusak. Akibatnya, bermunculan amalan-amalan, ibadah-ibadah, ritual-ritual yang pelakunya berdalih dengan mengatakan: kami sudah membuktikannya, atau berdalih dengan mengatakan: guru-guru kami sudah membuktikannya. Padahal, agama tidak boleh diambil dari pengalaman orang. Amal ibadah juga tidak boleh diambil dari mimpi, misalnya dengan dalih mengatakan: “Aku melihat dalam mimpi demikian dan demikian”, lalu seseorang membangun ibadah atau keyakinannya berdasarkan mimpi tersebut. Seperti inilah tak henti-hentinya sumber rujukan kebanyakan manusia bersandar kepadanya, yaitu akidah-akidah yang Allah tidak menurunkan keterangan tentangnya.

Dengan demikian, akidah yang diberkahi adalah akidah tauhid yang merupakan agama yang Allah tidak menerima agama apapun selainnya. Ia adalah akidah yang diambil dari sumber yang murni. Orang yang mengambil keyakinannnya dari hulu dan sumber yang murni akan mengetahui bahwa sumber-sumber yang lain itu keruh dan kotor. Akan tetapi, seseorang tidak bisa mengenali kotornya sumber-sumber yang lain tersebut, kecuali apabila ia telah mengenal seperti apa sumber yang murni dan jernih itu yang sumber tersebut merupakan wahyu Allah. Oleh karena itu, banyak dari orang-orang musyrik setelah mereka mendapat hidayah dan masuk ke dalam tauhid jelas bagi mereka bahwasanya dahulu (sebelum mereka mendapat hidayah) mereka adalah orang-orang yang tidak punya akal. Padahal, tatkala mereka masih berada dalam kesesatan, kesyirikan dan kebatilan; mereka menyangka bahwa apa yang mereka lakukan dan yakini itulah kebenaran dan agama yang lurus.

Oleh sebab itu sebagian sahabat radhiyallâhu ‘anhum kadang kala duduk bersama sambil menyebutkan kejadian-kejadian aneh ketika dahulu mereka masih di atas kesyirikan dan mereka memuji Allah yang telah membimbing mereka kepada Islam dan tauhid. Di antaranya adalah kisah Abû ‘Utsmân An-Nahdiy yang dia mendapati masa jahiliyah dan ia masuk Islam di masa Rasulullah masih hidup, tetapi ia belum sempat melihat beliau. Ia berkata:

“Dahulu di masa jahiliyah kami menyembah batu. Tiba-tiba kami mendengar ada orang yang berseru: ‘Wahai para pengembara! Sungguh tuhan kalian telah hilang, maka carilah tuhan!’ -maksudnya batu yang mereka bawa dan mereka sembah telah hilang- Maka kami keluar (mencari) dengan susah payah. Ketika kami dalam keadaan demikian tiba-tiba ada orang yang berseru: ‘Kami telah menemukan tuhan kalian atau sesuatu yang mirip dengan tuhan kalian’. Lalu kami mendatanginya, maka ternyata ia adalah batu, lalu kami menyembelih unta di dekatnya.”[2]

Mereka menemukan batu lain yang serupa atau mirip dengan batu sebelumnya, lalu mereka mendatanginya, menyembahnya, berharap kepadanya, menyerahkan doa, rasa harap, dan mempersembahkan sesembelihan kepadanya, di mana akal mereka?

Sementara itu pada waktu mereka melakukannya mereka menilai para nabi dan rasul sebagai orang-orang gila dan mereka menilai diri mereka adalah orang-orang yang berakal.

Apabila Allah menyinari akal dengan tauhid dan iman serta Allah membimbing hati kepada Islam, maka akan menjadi gamblang bagi manusia rusaknya apa yang diamalkan dan diyakini oleh orang-orang musyrik, akan menjadi gamblang bahwa sumber yang dijadikan rujukan oleh orang-orang musyrik adalah sumber yang kotor dan ternodai oleh kebatilan dan kesesatan, serta akan menjadi gamblang bahwa setiap orang musyrik itu rusak akalnya.

Disusun oleh:

Affan Luthfi Aldy

Dengan merujuk kepada kitab Min Ma’âlim at-Tauhîd, karyan Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafidzahullâh.


[1] Majmû’ Al-Fatâwâ Ibnu Taimiyyah (13/75).

[2] Dikeluarkan oleh Ibnu Abî Syaibah dalam Mushonnafnya (33913), Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqât Al-Kubrõ (7/97), dan Abu Nu’aim dalam Ma’rifatu Ash-Shohâbah (4704) dan sanadnya hasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *