Buah Menjaga Lisan

Di antara nikmat yang agung yang Allah karuniakan kepada kita adalah nikmat lisan. Dengan nikmat ini disertai nikmat lain berupa kedua bibir, kita bisa berbicara dan menyampaikan apa yang ada di dalam hati. Allah telah menegaskan berkaitan dengan nikmat ini di dalam firman-Nya:

أَلَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ عَیۡنَیۡنِ (8) وَلِسَانࣰا وَشَفَتَیۡنِ

“Bukankah kami jadikan untuknya (manusia) dua mata (8) sebuah lisan dan dua bibir?” (al-Balad: 8-9)

Di dalam ayat tersebut Allah mengingatkan akan dua nikmat yang agung yang Allah karuniakan kepada kita, yaitu nikmat kedua mata dan nikmat lisan disertai dua bibir. Dengan dua mata manusia bisa melihat dan dengan lisan dibantu dengan dua bibir ia bisa berucap.

Di antara bentuk bersyukur terhadap nikmat lisan yang Allah karuniakan kepada kita adalah kita tidak menggunakannya melainkan di dalam ketaatan kepada Allah dan kita menjaganya dari apa yang menyebabkan murka Allah. Barangsiapa yang Allah karuniakan taufik untuk menjaga lisannya, niscaya ia akan meraih berbagai kebaikan yang agung serta berbagai buah yang tidak terhitung baik di dunia maupun di akhirat. Di bawah ini terdapat beberapa buah yang agung serta manfaat yang mulia yang akan didapatkan oleh orang yang menjaga lisannya dengan izin Allah subânahu wata’âlâ.

  1. Didapatkannya Ampunan dari Allah serta Diperbaikinya Amal Perbuatan

    Allah berfirman:

    یَٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَقُولُوا۟ قَوۡلࣰا سَدِیدࣰا (70) یُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَیَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن یُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِیمًا 

    “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, (70) niscaya Allah memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang besar.” (al-Aḥzâb: 71)

    Ibnu Katsîr berkata berkaitan dengan ayat tersebut:

    يقولُ تعالى آمِرًا عِبادَهُ المؤمنينَ بتقواهُ، وأن يَعبُدوهُ عبادة مَن كأنَّهُ يَراهُ، وأن يقولوا: {قَوْلًا سَدِيدًا}، أي: مُستقيمًا لا اعوجاجَ فيهِ ولا انحرافَ، ووَعَدَهُم أنَّهُم إذا فعلوا ذلك أثابَهُم عليهِ بأن يُصلِحَ لهم أعمالَهُم؛ أي: يُوفِّقَهُم للأعمالِ الصالحةِ، وأن يَغفِرَ لهم الذنوبَ الماضيةَ. وما قد يَقَعُ منهم في المستقبلِ يُلهِمُهُم التوبةَ منها

    “Allah ta’âlâ berfirman memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk bertakwa kepada-Nya, untuk beribadah kepada-Nya dengan pelaksanaan ibadah layaknya seseorang yang melihat Allah, serta untuk mengatakan perkataan yang benar, yaitu perkataan yang lurus yang tidak menyimpang. Allah menjanjikan kepada mereka jika mereka melakukannya, mereka akan diberi balasan berupa amal perbuatan mereka akan diperbaiki oleh Allah, yaitu mereka akan diberi taufik untuk melaksanakan amal-amal salih, dosa-dosa mereka yang telah lalu akan diampuni, serta mereka akan diberi taufik untuk bertaubat atas dosa yang (kemungkinan) akan dilakukan oleh mereka di masa yang akan datang.”[1]

    2. Didapatkannya Jaminan untuk Masuk ke dalam Surga

    Al-Bukhâriy meriwayatkan dari sahabat Sahl bin Sa’d radhiyallâhu ‘anhu bahwasanya Nabi ﷺ bersabda:

    مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ ‌لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

    “Barangsiapa yang memberi jaminan kepadaku (terkait) apa yang ada di antara dua tulang dagunya (yaitu lisan) dan apa yang ada di antara dua kakinya (yaitu kemaluan), niscaya aku jamin baginya surga.”[2]

    Di dalam hadits ini pemberi jaminan adalah Rasulullah ﷺ, yang dijanjikan adalah surga, dan perkara yang menjadi sebab meraih jaminan tersebut adalah menjaga kemaluan serta menjaga lisan.

    3. Didapatkannya Keselamatan di Dunia dan Akhirat

    At-Tirmidziy meriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Âmir bahwa ia berkata kepada Rasulullah ﷺ:

    يَا رَسُولَ اللهِ مَا النَّجَاةُ؟

    “Wahai Rasulullah, apa sebab untuk mendapatkan keselamatan?”

    Rasulullah bersabda:

    امْلِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ، وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ، وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ

    “Tahanlah lisanmu, jadilah rumahmu terasa luas untukmu, dan menangislah atas kesalahanmu.”[3]

    At-Tirmidziy juga meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallâhu ‘anhumâ bahwa Rasulullah bersabda:

    مَنْ صَمَتَ نَجَا

    “Barangsiapa yang diam, niscaya ia selamat.”[4]

    4. Lurusnya Anggota-Anggota Badan

    Anggota badan seorang hamba akan lurus ketika lisannya lurus dan akan menyimpang ketika lisannya menyimpang. At-Tirmidziy meriwayatkan dari Abu Sa’îd al-Khudriy radhiyallâhu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

    إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ: اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ، فَإِنْ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا

    “Apabila manusia masuk di waktu pagi, maka seluruh anggota badannya tunduk kepada lisan dan mengatakan: ‘Bertakwalah kepada Allah berkaitan dengan kami, karena sesungguhnya kami bergantung kepadamu. Jika engkau lurus, niscaya kami akan lurus. Jika engkau menyimpang, niscaya kami akan menyimpang.”[5]

    5. Ditinggikannya Derajat dan Diraihnya Keridaan Allah

    Al-Bukhâriy meriwayatkan dari Abû Hurairah radhiyallâhu ‘anhu bahwasanya Nabi ﷺ bersabda:

    إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ، لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَرْفَعُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ

    “Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan perkataan yang diridai Allah (sedangkan) ia tidak mempedulikan perkataan itu, dengan perkataan itu Allah mengangkatnya beberapa derajat.”[6]

    At-Tirmidziy juga meriwayatkan dari Bilâl bin al-Ḥârits al-Muzaniy radhiyallâhu ‘anhu bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

    إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ فَيَكْتُبُ اللَّهُ لَهُ بِهَا رِضْوَانَهُ إِلَى يَوْمِ يَلْقَاهُ

    “Sesungguhnya salah seorang dari kalian mengucapkan perkataan yang diridai oleh Allah, ia tidak menyangka perkataan itu bisa mencapai apa yang ia capai, lantas karena perkataan itu Allah ‘azza wajalla menulis untuknya keridaan-Nya hingga hari ia berjumpa dengan Allah.”[7]

    6. Terhimpunnya Segala Kebaikan

    Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidziy dan Ibnu Mâjah dari Mu’âdz bin Jabal rahdiyallâhu ‘anhu ia berkata kepada Rasulullah ﷺ:

    يَا رَسُولَ اللهِ، أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي عَنِ النَّارِ

    “Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepadaku tentang suatu amal yang bisa membuatku masuk ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka.”

    Rasulullah pun bersabda:

    لَقَدْ سَأَلْتَنِي عَنْ عَظِيمٍ، وَإِنَّهُ لَيَسِيرٌ عَلَى مَنْ يَسَّرَهُ اللهُ عَلَيْهِ، تَعْبُدُ اللهَ وَلَا تُشْرِكْ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ، وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ، وَتَصُومُ رَمَضَانَ، وَتَحُجُّ الْبَيْتَ

    “Engkau telah bertanya tentang sesuatu yang agung, dan hal itu mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah. (Amal itu adalah) beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan dan haji ke baitullâh.

    Kemudian beliau bersabda:

    أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ؛ الصَّوْمُ جُنَّةٌ، وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ، وَصَلَاةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ

    “Maukah aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, sedekah akan memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api, serta shalat yang dilakukan oleh seseorang di waktu malam.”

    Lantas beliau membaca firman Allah:

    تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمۡ عَنِ ٱلۡمَضَاجِعِ یَدۡعُونَ رَبَّهُمۡ خَوۡفࣰا وَطَمَعࣰا وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ یُنفِقُونَ

    “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Rabb mereka dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”

    Kemudian beliau bersabda kepada Mu’âdz:

    أَلَا أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الْأَمْرِ كُلِّهِ وَعَمُودِهِ وَذُرْوَةِ سَنَامِهِ؟

    “Maukah aku kabarkan kepadamu tentang pokok segala urusan, tiangnya, serta puncaknya?”

    Mu’âdz berkata:

    بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ

    “Iya wahai Rasulullah.”

    Beliau pun bersabda:

    رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ، وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ، وَذُرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ

    “Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.”

    Kemudian beliau bersabda kepada Mu’âdz:

    أَلَا أُخْبِرُكَ بِمِلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟

    “Maukah aku kabarkan kepadamu tentang penopang itu semua?”

    Mu’âdz berkata:

    بَلَى يَا نَبِيَّ اللهِ

    “Iya wahai Nabi.”

    Rasulullah pun memegang lidah beliau dan bersabda:

    كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا

    “Tahanlah olehmu hal ini (yaitu lisan).”

    Mu’âdz pun berkata:

    يَا نَبِيَّ اللهِ، وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ

    “Wahai Nabi, apakah kita akan dihukum atas apa yang kita ucapkan?”

    Rasulullah bersabda:

    ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ

    “Semoga ibumu kehilanganmu wahai Mu’âdz, bukankah yang memasukkan manusia ke dalam neraka (dengan terjungkal) di atas wajah atau di atas hidung mereka tidak lain adalah hasil buah lisan mereka?”[8]

    Di dalam hadits ini, Rasulullah menyebutkan berbagai macam kebaikan lantas beliau menyebutkan bahwa penopang semua kebaikan itu adalah menjaga lisan. Oleh karena itu, salah seorang ulama, yaitu Yûnus bin ‘Ubaid pernah berkata:

    مَا رَأَيْتُ أَحَدًا لِسَانُهُ مِنْهُ عَلَى بَالٍ إِلَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ صَلَاحًا فِي سَائِرِ عَمَلِهِ

    “Tidaklah aku melihat seseorang yang memperhatikan masalah lisannya, kecuali hal itu menjadi sebab kebaikan seluruh amal perbuatannya.”[9]

    Ulama lain, yaitu Yaḥya bin Abî Katsîr juga pernah berkata:

    مَا صَلَحَ مَنْطِقُ رَجُلٍ إِلَّا عَرَفْتَ ذَلِكض فِي سَائِرِ عَمَلِهِ، وَلَا فَسَدَ مَنْطِقُ رَجُلٍ إِلَّا عَرَفْتَ ذَلِكَ فِي سَائِرِ عَمَلِهِ

    “Tidaklah baik ucapan seseorang, melainkan engkau akan mengetahui hal itu pada seluruh amal perbuatannya. Dan tidaklah buruk ucapan seseorang, melainkan engkau akan mengetahui hal itu pada seluruh amal perbuatannya (juga).”[10]

    Inilah di antara buah yang agung dari menjaga lisan. Dengan kita menjaga lisan dari hal-hal yang Allah murkai dan menggunakannya pada hal-hal yang Allah ridai, kita akan menjadi orang yang bersyukur kepada Allah akan nikmat besar berupa lisan ini dan kita akan meraih berbagai buah yang mulia sebagaimana telah disebutkan di atas. Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk menjaga lisan-lisan kita, memperbaiki urusan-urusan kita, serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang salih.


    [1] Tafsîr Ibn Katsîr (6/253).

    [2] Diriwayatkan oleh al-Bukhâriy (no. 6474).

    [3] Diriwayatkan oleh at-Tirmidziy (no. 2406) dan dinilai sahih oleh al-Albâniy dalam Shaḥîḥ at-Targhîb (no. 2741).

    [4] Diriwayatkan oleh at-Tirmidziy (no. 2501) dan dinilai sahih oleh al-Albâniy dalam Shaḥîḥ at-Targhîb (no. 2874).

    [5] Diriwayatkan oleh at-Tirmidziy (no. 2407) dan dinilai sahih oleh al-Albâniy dalam Shaḥîḥ at-Targhîb (no. 2871).

    [6] Diriwayatkan oleh al-Bukhâriy (no. 6478).

    [7] Diriwayatkan oleh at-Tirmidziy (no. 2319) dan dinilai sahih oleh al-Albâniy dalam Shaḥîḥ at-Targhîb (no. 2878).

    [8] Diriwayatkan oleh at-Tirmidziy (no. 2616) dan dinilai sahih oleh al-Albâniy dalam Shaḥîḥ Sunan at-Tirmidziy.

    [9] Jâmi’ul ‘Ulûm wal Ḥikam (2/149).

    [10] Ḥilyatul Awliyâ’ karya Abû Nu’aim (3/20).

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *